Jumat, 19 Juni 2009

MAKALAH STUDI ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
Setiap agama mempunyai karakteristik ajaran yang membedakan dari agama-agama lain. Agama yang didakwahkan secara sungguh-sungguh diharapkan dapat menyelematkan dunia yang terpecah-pecah dalam berbagai bagian-bagian. Perpecahan saling mengintai dan berbagai krisis yang belum diketahui bagaimana cara mengatasinya. Tidak mudah membahas karakteristik ajaran islam, karena ruanglingkupnya sangat luas, mencakup berbagai aspek kehidupan umat islam. Untuk mengkaji secara rinci semua karakteristik ajaran islam perlu di telusuri, mulai dari risalah Allah terakhir dan menjadi agama yang diridloi Allah, untuk dunia dan seluruh umat manusia sampai datangnya hari kiamat.
Karakteristik yang dimiliki islam, yakni karakteristik ilmu dan kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, dan disiplin ilmu. Karakteristik ajaran islam adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh umat muslim dengan bersandarkan Al-Qur'an dan Hadist dalam berbagai bidang ilmu,kebudayaan, pendidikan.sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, disiplin ilmu,dan berbagai macam ilmu khusus. Karakteristik ini banyak terdapat di dalam sumber-sumber ajaran Al-Quran dan Al-Hadits. Kedua sumber ini telah menjadi pedoman hidup bagi setiap umat Islam. Aspek-aspek sumber kehidupan ini diberi karakter tersendiri dalam berbagai ilmu pengetahuan, ekonomi, social, politik, pekerjaan, kesehatan, dan disiplin ilmu untuk sepanjang masa.


 
BAB II
KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM
A.    Pembahasan
Istilah karakteristik ajaran islam terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran islam. Kata karakteristik dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sesuatu yang mempunyai karakter atau sifat yang khas. Islam dapat diartikan agama yang diajarkan nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci al qur'an dan diturunkan di dunia ini melalui wahyu allah SWT. Berarti karakteristik jaran islam dapat diartikan sebagai ciri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang didalamnya temasuk ekonomi, social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan, dan disiplin ilmu.
Karakteristik ajaran islam terdiri dari berbagai bidang disiplin ilmu. Bidang-bidang tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bidang Ilmu Dan Kebudayaan
Kebudayaan adalah penjelmaan (manifestasi) akal dan rasa manusia. Ini berarti manusilah yang menciptakan kebudayaan. Kebudayaan islam, berarti menyaring kebudayaan yang tidak melenceng dari ajaran islam agar tetap berjalan antara kebudayaan dengan ajaran agama maka harus pula dipelajari tentang pengertian kebudayaan dan islam itu sendiri. Menurut bahasa, kata kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu budh yang berarti akal kemudian dari kata budh itu berubah menjadi kata budhi dan jamaknya budaya. Dalam bahasa arab kata kebudayaan itu disebut ats-tsaqafah dalam bahasa inggris kebudayaan ini disebutculture.
Dalam bidang ilmu dan kebudayaan, islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk bersikap terbuka, sekalipun islam bukan timur dan barat. Ini tidak berarti islam harus menutup diri dari keduanya dalam sejarah, islam mewarisi peradapan yunani-romawi di barat dan peradapan Persia, India, cina di timur. Dari abad ke-7 sampai abad ke-15, ketika perdapan besar di barat dan timur tenggelam, islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian di ambil alih oleh peradapan barat jadi, dalam ilmu dan kebudayaan, Islam menjadi mata rantai sangat penting dalam sejarah peradapan dunia .
2.      Bidang Sosial
Karakteristik islam di bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol, Karena seluruh bidang ajaran islam dalam bidang sosial ditujukan untuk menyejahterakan mnusia. Namun khusus dalam bidang sosial ini, islam menjunjung tinggi sifat tolong menolong, saling mensehati, tentang hak dan kesabarn, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derjat), tenggang rasa, dan kebersamaan. Ukuran tinggi derajat manusia dalam pandangan islam bukan di tentukan oleh nenek moyangnya, kebangsaannya, warna kulit, bahasa, dan jenis kelamin yang berbau rasialis. Tetapi ditentukan oleh ketakwaannya yang ditujukan oleh prestasi kerjanya yang bermanfaat bagi manusia.
3.      Bidang Ekonomi
Karkteristik ajarn islam selanjutnya dapt dipahami dari konsepsinya dalambidang kehidupan yang harus dilakukan. Urusan dunia dikejar dalam rangka mengejar kehidupan akherat, kehidupan akherat dapat dicapai dengan dunia.
Pandangan islam mengenai kehidupan dibidang ekonomi itu dicerminkan dalam ajaran fiqih yang menjelaskan tentang bagaimana menjalankan sesuatu usaha ataupun ajaran islam mengenai berzkat juga dalam konteks berekonomi.
4.      Bidang Kesehatan
Kesehatan berasal dari kata sehat yang merupakn sehat jasmani dan rohani, sehat lahir dan batin. Dalam kamus bahasa Indonesia kesehatan diartikan sebagai hal yang harus dijaga olkeh setiap manusia agar tetap hidup sehat. Islam sangat memperhatikan kesehatan dengan cara: pertama, mengajak dan menganjurkan untuk menjaga kebersihan diri dn lingkungan. Kedua, mempertahankan kesehatn yang dimiliki seseorang agar tetap sehat. Ajaran islam tentang kesehatn berpedoman pada prinsip pencegahan lebih baik dari pada mengobati (al-wiqoyah khoir minal al-I"laf) berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan sekian banyak petunjauk kitab suci dan sunah nabi SAW yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan. Untuk menuju upaya pencegahn tersebut, islam menekankan segi kebersihan lahir batin. Kebersihan lahir batin dapat mengambil bentuk kebersihan tempat tinggal, lingkungan sekitear badan, pakaian, makanan, dan minuman.
5.      Bidang Pekerjaan
Karakteristik ajaran islam lebbih lanjut dapat dilihat dari jaranya mengenai kerja. Islam memandng bahwa kerja sebagai ibadah kepada alloh SWT atas dasar inilah maka kerja yang dikehendaki islam adalah kerja yang bermutu tearah pada pengabdian terhadap alloh SWT, dan kerja bermanfaat bagi orng lain.
Islam tidk menekankan pada banyaknya pekerjaan, tetapi pada kwalitas manfaat kerja. Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, islam memndang kerja yang dilakukan harus kerja yang professional, yakni kerja yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan, dan kwalitasnya.

6.      Bidang Disiplin Ilmu
Karakteristik islam mengenai disiplin ilmu sangat dibutuhkan, sebab menerapkan disipilin,seseorang, membuat orang tersebut tetap berpegang teguh pada peraturan dan tidak akn tergoyahkan aqidahnya. Bagai ajaran yangberkenaan dengan berbagai bidng kehidupqn, island tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yyanitu ilmu keislaman.
Harun nasution menyatakan bahwaislam mempunyai berbagai aspek disip-lin ilnmu, yanitu aspek teologi, aspek ibadah, asprk moral, aspek mistisisme, aspek sejarah, dan aspek kebudayaan.


BAB III
PENUTUP
Karakteristik ajaran islam secara dominant ditandai oleh pendekatan normative, histories, dan filosofis. Ajaran islam memiliki cirri-ciri yang secara kesuluruhan amat ideal. Islam agama yang mengajarkan perdamaian, toleransi terbuka, kebersamaan, egaliter, kerja keras yang bermutu, demokratis, adil, seimbang antara urusan dunia dan akherat. Islam memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Islam dalam kesehatan mengutamakan pencegahan dari pada penyenmbuhan. Bidng kesehatan memperhatikan segi kebersihan badan, pakaian, makanan, tempat tinggal, dan lingkungan. Islam juga tampil sebagai disiplin ilmu, yaitu ilmu keislaman dengan berbagai cabangnya. Karakteristik isalm yang demikian ideal itu tampak masih belum seluruhnya diketahui dan diamalkan. Antara ajaran islam yang ideal dan kenyatan umatnya msih ada kesenjangan. Hal ini memerlukan pemecahan, antar lain dengan merumuskan kembali metode dan pendekatan dalm memahami islam.

  

DAFTAR PUSTAKA
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsmani. Ke-islam-an. Jogjakarta : Media Hidayah. 2008.
Wahhab Khallaf, Abdul. Prof. Dr. (alih bahasa : Prof. KH. Masdar Helmy).Karakteristik Ajaran Islam. Bandung : Gema Risalah Press. 1997.
Yahya, Mukhtar.Prof. Dr.dan Prof. Drs. Fatchurrahman. Islam Modern. Bandung : Al-Ma’arif. 1993.

Senin, 11 Mei 2009

MAKALAH QUR'AN



BAB I
PENDAHULUAN
Tafsir dari sudut bahasa ialah keterangan dan kenyataan. Dari segi istilah ialah ilmu yang membicarakan perihal al-Qur'an berdasarkan dalil-dalil terhadap maksud dan tujuan Allah sekadar yang termampu oleh daya pemikiran manusia. Sesetengah ulama memberikan pengertian tafsir sebagai merangkumi perkara-perkara yang berhubung dengan kedudukan kalam Allah yang dimulai dari sudut sanad atau sandaran lafaz dan pengertian makna yang berhubung dengan sesuatu hukum.

Ini termasuk sebab-sebab diturunkan sesuatu ayat dan masa sesuatu kejadian itu berlaku. Sesuatu penafsiran yang dapat diterima sebagai hujah oleh ahli-ahli tafsir mestilah mengandungi sususan ilmu bacaan (al-qiraat), yang lengkap, ilmu usul dan ilmu bahasa yang melingkupi nahu, saraf, balaghah, bayan, badi' dan sebagainya.

Oleh sebab itu kami akan membahas mengenai tafsir baik pengertian, perbedaan dan klasifikasi kitab – kitab tafsir yang telah dikarang oleh ulama’ kalasik.





BAB II
TAFSIR AL – QUR’AN
A. Pengertian Tafsir
Tafsir
Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, Tafsir diambil dari kata Al-Fasr’ yang berarti membuka dan menjelaskan sesuatu yang tertutup. Oleh karena itu dalam bahsa arab kata tafsir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat).
Maka defenisi Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi Al-Qur’an dengan memperhatikan pengertian untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, sesuai dengan kadar kemampuan manusia.
Adapun tentang pengertian tafsir berdasarkan istilah, para ulama banyak memberikan komentar antara lain sebagai berikut :
  1. Menrut Al-Kilabi
Tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an dengan menerangkan makna dari tujuan (isyarat).
  1. Menurut Syekh Al-Jazari
Tafsir adalah hakekatnya menjelaskan lafazh yang sukar difahami dengan jalan mengemukakan salah satu lafazh yang bersinonim (mendekati) dengan lafazh tersebut
  1. Menurut abu Hayyan
Tafsir adalah ilmu yang mengenai cara pengucapan lafazh Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya.
  1. Menurut Az-Zarkasyi
Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna Al-Qur’an yang diturunkan pada pada nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kandungan dan hukum dan hikmahnya.
Berdasarkan beberapa rumusan tafsir yang dikemukakan para ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah suatu hasil yang tanggapan dan penalaran manusia untuk menyikapi nilai-nilai samawi yang terdapt didalam Al-Qur’an.
B. Perbedaan Tafsir, Takwil dan Terjemah
Adapun perbedaan tafsir, takwil dan terjemah itu sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut.
  1. Tafsir.
Menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.
  1. Takwil
- Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil.
- Mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.
  1. Terjemah
Mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berasal dari bahasa arab kedalam bahasa non arab.
C. Klasifikasi Kitab Tafsir
  • Kitab Jaamiul Bayan Fi Tafsir Qur’an : Ibn Jarir At Thabari
  • Kitab Bahrul Ulum : Abu Lais As Samarqandy
ü  Kitab Tafsir Bi Ar Ra’yi
·         Kitab Mafatihul Al Ghaib : Fakhrurazy
·         Kitab Anwar At Tanzil Wa Asrar At Ta’wil : Al Baidhowy
ü  Kitab Tafsir Mu’tazilah
·         Kitab Tanzih Al Qur’an ‘An Al Mathain : Al Qadhy ‘Abdu Al Jabar
·         Kitab Amaly Asy Syarif Al Murtadhy / Gharar Al Fawaidh Wa Dirar Al Qalaid : Syarif Radhy
ü  Kitab Tafsir Imamiyah Itsna Asyriyyah (Syiah)
·         Kitab Tafsir Al Hasan Al ‘Askary
·         Kitab Tafsir Muhammad Bin Mas’ud Bin Muhammad Bin ‘Iyas As Salamy Al Kufy
ü  Kitab Tafsir Zaidiyah
·         Kitab Fathul Qadir : Asy Syaukany
ü  Kitab Tafsir Khawarij
·         Kitab Himyan Az Zadi Ila Daar Al Ma’ad : Muhammad Ithfiyas
ü  Kitab Tafsir Al Isyary / Shufiyah
·         Kitab Tafsir qur’an adzhim : Abu Muhammad sahl bin ‘abdillah bin Yunus bin isa bin abdillah, at tastary
ü  Tafsir Filsafat
·         Kitab Tafsir al Faraby
ü  Kitab Tafsir Fiqhiyyah
·         Kitab Ahkam Al Qur’an (hanafiyah) : Abu Bakr, Ahmad Bin ‘Ali Ar Razy (Al Jashash)
ü  Kitab Tafsir Kontemporer
·         Kitab AL Jawahir Fi Tafsir Al Qur’an Al Hakim : Thanthawi Jauhary
·         Kitab Al Hidayah Wa Al’irfan : Abu Zaid Ad Damanhury




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
o   Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, Tafsir diambil dari kata Al-Fasr’ yang berarti membuka dan menjelaskan _eWuatu yang tertutup. Oleh karena itu dalam bahsa arab kata ta_sir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat).
o   Perbedaan tafsir, takwil dan terjemahan yaitu :
Tafsir adalah menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.
Takwil adalah menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil dan mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.
Terjemah adalah mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berasal dari bahasa arab kedalam bahasa non arab.






DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI (DEPAG). Al-Quran dan Tafsirnya. Jakarta : DEPAG, 2006.
M. Quraish Shihab,. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
M. Mutawali Sya’rawi,. Terj. Tafsir Sya’rawi. Penerjemah, Ikatan Alumni Universitas al- Azhar Mesir di Medan. Jilid kedua. Jakarta : PT. Ikrar Mandiriabadi, 2005.

Senin, 02 Maret 2009

MAKALAH FILSAFAT UMUM

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang sering terkait, baik secara substansial maupun hisfories karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadapan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunnai dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang lebih domain. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada rasio. Kejadian seperti gerhana tidak lagi di anggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan dan bumi berada pada garis yang sejajar. Sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.


Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Perubahan yang mendasar adalah di temukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah. Yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun manusia sendiri. Dari penelitian alam semesta dan manusia, munculkah ilmu-ilmu seperti astronomi, kosmologi, fisika, kimia, biologi, psikologi, sosiologi, dan lainnya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih khusus lagi dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.

PENGERTIAN FILSAFAT

Pengertian filsafat dapat di tinjau dari dua segi yakni secara etimologi dan terminologi:
1. Arti secara etimologi
Kata filsafat dalam bahasa arab adalah falsafah yang dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah philosophy adalah bersal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yag berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijakasanaan (Wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love ofwisdom). Seorang filsafat adalah pencinta atau pencari kebijaksanaan.
2. Arti terminologi
Arti terminologi maksudnya arti yang di kandung oleh istilah-istilah stemen “filsafat”.
• Menurut platofilsafat adalah pengaturan yang terminat mencapai pengetahuankebenaran yang asli.
• Menurut Aristoteles filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang tekadang di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi politik dan estetika (filsafat keindahan).
• Hasbullah Bakryilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai keutuhan alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya telah di capai pengetahuan itu.
Adapun ahli Mudhofir (1996) memberikan arti filsafat sangat beragam:
-_Filsafat sebagai suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta, sikap secara filsafat adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran dan selalu tersedia menunjau suatu problem dari semua sudut pandang.
Filsafat sebagai suatu metode artinya cara berpikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunkan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti.
Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh mencoba menggantungkan beberapa kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pedagang dunia yang konsisten.
Jadi dari batasan-batasan di atas tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakekatnya.

OBJEK FILSAFAT

Filsafat adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penentuan untuk pembentukan pengetahuan yang di bedakan menjadi dua yaitu: objek material dan objek formal.
Objek material filsafat
Objek material yaitu suatu yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau objek material yaitu hal yang diselidiki di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu.
Objek formal filsafat
Objek formal filsafat yaitu sudut pandangan yang menyeluruh secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Jadi yang membedakan filsafat dengan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya. Jika dalam ilmu-ilmu lain, objek materialnya mambatasi dari apapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikatnya untuk esensi dari yang di hadapinya.


METODE FILSAFAT

Kata metode berasal dari kata Yunani methods, sambungan kata depan meta (ialah menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (ialah jalan perjalanan, cara, arah, kata methodos sendiri berarti penelitian. Metode ilmiahhipoteses ilmiah,uraian ilmiah. Metode inilah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu.
Runes dalam dictionary of philosophy sebagaimana di kutip oleh Anton Bakker menguraikan sepanjang sejarah filsafat telah di kembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda yang dapat di susun menurut garis histories sedikitnya ada 10 metode, yaitu:
1. Metode kritis: Socrates, Plato
Bersifat analisis istilah dan pendapat yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan dengan jalan bertanya, membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode intuitif: Plotinus, Bergson
Dengan jalan instrospeksi dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan pembersihan. Intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.
3. Metode skolastik: Aristoteles, Thomas Aqinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini cenderung bersifat sintesis-deduktif, dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4. Metode Geometris: Rene decscarter dan pengikutnya.
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, di capai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakikat-hakikat itu di dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.

STRUKTUR KAJIAN FILSAFAT

Relasi Antara Pengetahuan, Filsafat dan Agama
Manusia di lahirkan dengan tanpa memiliki pengetahuan, hanya saja Tuhan menganugerahkan akal pikiran dan panca indra kepada manusia. Dengan ini pula, manusia dapat memperoleh pengetahuan. (Q. S Al Nahl: 78). Islam sendiri menyuru umatnya agar selalu mencari pengetahuan sejak kita masih dalam buaian ibu sehingga ajal menjemput nyawa. Karena dalam pengetahuan ilmiah manusia dapat berinteraksi dengan alamnya.
Sepanjang sejarah, manusia tidak akan pernah lepas dari usaha untuk menundukan alam dengan menggunakan akal pikirannya. Makin lama pengalaman dan pengetahuan manusia semakin meluas sehingga ia pun lebih mampu membedakan dan memanfaatkan berbagai benda yang berada di kelilingnya. Ketika ia melihat dua batu yang saling berbenturan kemudian menimbulkan titikan api, manusia berpikir bahwa batu dapat di gunakan untuk menerangi 902-902, namun bersama dengan perputaran waktu manusia mulai mengetahui bahwa batu yang berbenturan dengan benda tertentu menimbulkan keretakan misalnya, manusia primitif pun berpikir bahwa batu dapat di gunakan sebagai alat untuk berburu, sebagai senjata dan lain sebagainya.
Bagi mansusia primitif, pikiran mereka barangkali masih di bayang-bayangi dengan pikiran mistis, namun setidaknya dengan melihat fenomena alam, manusia telah berpikir untuk menafsirkan berbagai gerakan dan kehidupan di alam raya sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Mereka juga berpikir bagaimana ia berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia primitf percaya bahwa gerakan di alam ini ada yang mengatur sebagaimana yang mereka pahami. Dari sini berkembang kepercayaan animisme, dinamisme dan peganisme dalam masyarakat primitif.
Bersama dengan putaran waktu, pengetahuan manusia primitif semakin bertambah. Mereka mulai berpikir bahwa sesuatu yang dulu dianggapnya sebagai Tuhan ternyata tidak mampu memberikan sosuli terhadap berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. Indah dan teratur ini tidak mungkin di ciptakan dari banyak Tuhan. Dari sini manusia mulai percaya bahwa di sana hanya ada satu tuhan saja.
Semakin lama pengetahuan manusia pun semakin meluas. Sehingga satu persatu pengetahuan dapat berdiri sendiri secara tematis, perlahan-lahan, pengetahuan mulai menjadi sebuah ilmu yang memiliki berbagai cabang sesuai denan tema dan tujuannya masing-masing. Dari sini berkembanglah ilmu filsafat yang dapat menilai sesuatu secara lebih menyeluruh dan logis. Ilmu pun berkembang dengan filsafat dan hal ini dapat di manfaatkan manusia untuk mengimbangi kebutuhan mereka dalam berinteraksi dengan realitas. Dengan ini pula peradapan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia.

PENUTUP

Manusia mulai dengan berfilsafat, bila ia berpikir dengan teliti dan teratur untuk memecahkan problem-problem dan memandang permasalahannya dari sudut yang hakiki. Maka dari itu pada hakekatnya. Filsafat mengemukakan pandangan-pandangan yang bersifat akar dari ilmu yang lain. Namun disamping itu antara ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lain terdapat kesamaan-kesamaan sifat, yaitu bahwa semuanya tertarik pada pengetahuan dan masing-masing adalah lapangan yang mengadakan pemeriksaan dan penemuan, mempunyai objek, metode penelitian dan sistem.