Senin, 11 Mei 2009

MAKALAH QUR'AN



BAB I
PENDAHULUAN
Tafsir dari sudut bahasa ialah keterangan dan kenyataan. Dari segi istilah ialah ilmu yang membicarakan perihal al-Qur'an berdasarkan dalil-dalil terhadap maksud dan tujuan Allah sekadar yang termampu oleh daya pemikiran manusia. Sesetengah ulama memberikan pengertian tafsir sebagai merangkumi perkara-perkara yang berhubung dengan kedudukan kalam Allah yang dimulai dari sudut sanad atau sandaran lafaz dan pengertian makna yang berhubung dengan sesuatu hukum.

Ini termasuk sebab-sebab diturunkan sesuatu ayat dan masa sesuatu kejadian itu berlaku. Sesuatu penafsiran yang dapat diterima sebagai hujah oleh ahli-ahli tafsir mestilah mengandungi sususan ilmu bacaan (al-qiraat), yang lengkap, ilmu usul dan ilmu bahasa yang melingkupi nahu, saraf, balaghah, bayan, badi' dan sebagainya.

Oleh sebab itu kami akan membahas mengenai tafsir baik pengertian, perbedaan dan klasifikasi kitab – kitab tafsir yang telah dikarang oleh ulama’ kalasik.





BAB II
TAFSIR AL – QUR’AN
A. Pengertian Tafsir
Tafsir
Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, Tafsir diambil dari kata Al-Fasr’ yang berarti membuka dan menjelaskan sesuatu yang tertutup. Oleh karena itu dalam bahsa arab kata tafsir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat).
Maka defenisi Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi Al-Qur’an dengan memperhatikan pengertian untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, sesuai dengan kadar kemampuan manusia.
Adapun tentang pengertian tafsir berdasarkan istilah, para ulama banyak memberikan komentar antara lain sebagai berikut :
  1. Menrut Al-Kilabi
Tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an dengan menerangkan makna dari tujuan (isyarat).
  1. Menurut Syekh Al-Jazari
Tafsir adalah hakekatnya menjelaskan lafazh yang sukar difahami dengan jalan mengemukakan salah satu lafazh yang bersinonim (mendekati) dengan lafazh tersebut
  1. Menurut abu Hayyan
Tafsir adalah ilmu yang mengenai cara pengucapan lafazh Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya.
  1. Menurut Az-Zarkasyi
Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna Al-Qur’an yang diturunkan pada pada nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kandungan dan hukum dan hikmahnya.
Berdasarkan beberapa rumusan tafsir yang dikemukakan para ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah suatu hasil yang tanggapan dan penalaran manusia untuk menyikapi nilai-nilai samawi yang terdapt didalam Al-Qur’an.
B. Perbedaan Tafsir, Takwil dan Terjemah
Adapun perbedaan tafsir, takwil dan terjemah itu sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut.
  1. Tafsir.
Menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.
  1. Takwil
- Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil.
- Mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.
  1. Terjemah
Mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berasal dari bahasa arab kedalam bahasa non arab.
C. Klasifikasi Kitab Tafsir
  • Kitab Jaamiul Bayan Fi Tafsir Qur’an : Ibn Jarir At Thabari
  • Kitab Bahrul Ulum : Abu Lais As Samarqandy
ü  Kitab Tafsir Bi Ar Ra’yi
·         Kitab Mafatihul Al Ghaib : Fakhrurazy
·         Kitab Anwar At Tanzil Wa Asrar At Ta’wil : Al Baidhowy
ü  Kitab Tafsir Mu’tazilah
·         Kitab Tanzih Al Qur’an ‘An Al Mathain : Al Qadhy ‘Abdu Al Jabar
·         Kitab Amaly Asy Syarif Al Murtadhy / Gharar Al Fawaidh Wa Dirar Al Qalaid : Syarif Radhy
ü  Kitab Tafsir Imamiyah Itsna Asyriyyah (Syiah)
·         Kitab Tafsir Al Hasan Al ‘Askary
·         Kitab Tafsir Muhammad Bin Mas’ud Bin Muhammad Bin ‘Iyas As Salamy Al Kufy
ü  Kitab Tafsir Zaidiyah
·         Kitab Fathul Qadir : Asy Syaukany
ü  Kitab Tafsir Khawarij
·         Kitab Himyan Az Zadi Ila Daar Al Ma’ad : Muhammad Ithfiyas
ü  Kitab Tafsir Al Isyary / Shufiyah
·         Kitab Tafsir qur’an adzhim : Abu Muhammad sahl bin ‘abdillah bin Yunus bin isa bin abdillah, at tastary
ü  Tafsir Filsafat
·         Kitab Tafsir al Faraby
ü  Kitab Tafsir Fiqhiyyah
·         Kitab Ahkam Al Qur’an (hanafiyah) : Abu Bakr, Ahmad Bin ‘Ali Ar Razy (Al Jashash)
ü  Kitab Tafsir Kontemporer
·         Kitab AL Jawahir Fi Tafsir Al Qur’an Al Hakim : Thanthawi Jauhary
·         Kitab Al Hidayah Wa Al’irfan : Abu Zaid Ad Damanhury




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
o   Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, Tafsir diambil dari kata Al-Fasr’ yang berarti membuka dan menjelaskan _eWuatu yang tertutup. Oleh karena itu dalam bahsa arab kata ta_sir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat).
o   Perbedaan tafsir, takwil dan terjemahan yaitu :
Tafsir adalah menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.
Takwil adalah menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil dan mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.
Terjemah adalah mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berasal dari bahasa arab kedalam bahasa non arab.






DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI (DEPAG). Al-Quran dan Tafsirnya. Jakarta : DEPAG, 2006.
M. Quraish Shihab,. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
M. Mutawali Sya’rawi,. Terj. Tafsir Sya’rawi. Penerjemah, Ikatan Alumni Universitas al- Azhar Mesir di Medan. Jilid kedua. Jakarta : PT. Ikrar Mandiriabadi, 2005.

Senin, 02 Maret 2009

MAKALAH FILSAFAT UMUM

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang sering terkait, baik secara substansial maupun hisfories karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadapan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunnai dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang lebih domain. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada rasio. Kejadian seperti gerhana tidak lagi di anggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan dan bumi berada pada garis yang sejajar. Sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.


Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Perubahan yang mendasar adalah di temukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah. Yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun manusia sendiri. Dari penelitian alam semesta dan manusia, munculkah ilmu-ilmu seperti astronomi, kosmologi, fisika, kimia, biologi, psikologi, sosiologi, dan lainnya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih khusus lagi dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.

PENGERTIAN FILSAFAT

Pengertian filsafat dapat di tinjau dari dua segi yakni secara etimologi dan terminologi:
1. Arti secara etimologi
Kata filsafat dalam bahasa arab adalah falsafah yang dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah philosophy adalah bersal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yag berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijakasanaan (Wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love ofwisdom). Seorang filsafat adalah pencinta atau pencari kebijaksanaan.
2. Arti terminologi
Arti terminologi maksudnya arti yang di kandung oleh istilah-istilah stemen “filsafat”.
• Menurut platofilsafat adalah pengaturan yang terminat mencapai pengetahuankebenaran yang asli.
• Menurut Aristoteles filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang tekadang di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi politik dan estetika (filsafat keindahan).
• Hasbullah Bakryilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai keutuhan alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya telah di capai pengetahuan itu.
Adapun ahli Mudhofir (1996) memberikan arti filsafat sangat beragam:
-_Filsafat sebagai suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta, sikap secara filsafat adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran dan selalu tersedia menunjau suatu problem dari semua sudut pandang.
Filsafat sebagai suatu metode artinya cara berpikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunkan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti.
Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh mencoba menggantungkan beberapa kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pedagang dunia yang konsisten.
Jadi dari batasan-batasan di atas tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakekatnya.

OBJEK FILSAFAT

Filsafat adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penentuan untuk pembentukan pengetahuan yang di bedakan menjadi dua yaitu: objek material dan objek formal.
Objek material filsafat
Objek material yaitu suatu yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau objek material yaitu hal yang diselidiki di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu.
Objek formal filsafat
Objek formal filsafat yaitu sudut pandangan yang menyeluruh secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Jadi yang membedakan filsafat dengan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya. Jika dalam ilmu-ilmu lain, objek materialnya mambatasi dari apapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikatnya untuk esensi dari yang di hadapinya.


METODE FILSAFAT

Kata metode berasal dari kata Yunani methods, sambungan kata depan meta (ialah menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (ialah jalan perjalanan, cara, arah, kata methodos sendiri berarti penelitian. Metode ilmiahhipoteses ilmiah,uraian ilmiah. Metode inilah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu.
Runes dalam dictionary of philosophy sebagaimana di kutip oleh Anton Bakker menguraikan sepanjang sejarah filsafat telah di kembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda yang dapat di susun menurut garis histories sedikitnya ada 10 metode, yaitu:
1. Metode kritis: Socrates, Plato
Bersifat analisis istilah dan pendapat yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan dengan jalan bertanya, membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode intuitif: Plotinus, Bergson
Dengan jalan instrospeksi dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan pembersihan. Intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.
3. Metode skolastik: Aristoteles, Thomas Aqinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini cenderung bersifat sintesis-deduktif, dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4. Metode Geometris: Rene decscarter dan pengikutnya.
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, di capai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakikat-hakikat itu di dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.

STRUKTUR KAJIAN FILSAFAT

Relasi Antara Pengetahuan, Filsafat dan Agama
Manusia di lahirkan dengan tanpa memiliki pengetahuan, hanya saja Tuhan menganugerahkan akal pikiran dan panca indra kepada manusia. Dengan ini pula, manusia dapat memperoleh pengetahuan. (Q. S Al Nahl: 78). Islam sendiri menyuru umatnya agar selalu mencari pengetahuan sejak kita masih dalam buaian ibu sehingga ajal menjemput nyawa. Karena dalam pengetahuan ilmiah manusia dapat berinteraksi dengan alamnya.
Sepanjang sejarah, manusia tidak akan pernah lepas dari usaha untuk menundukan alam dengan menggunakan akal pikirannya. Makin lama pengalaman dan pengetahuan manusia semakin meluas sehingga ia pun lebih mampu membedakan dan memanfaatkan berbagai benda yang berada di kelilingnya. Ketika ia melihat dua batu yang saling berbenturan kemudian menimbulkan titikan api, manusia berpikir bahwa batu dapat di gunakan untuk menerangi 902-902, namun bersama dengan perputaran waktu manusia mulai mengetahui bahwa batu yang berbenturan dengan benda tertentu menimbulkan keretakan misalnya, manusia primitif pun berpikir bahwa batu dapat di gunakan sebagai alat untuk berburu, sebagai senjata dan lain sebagainya.
Bagi mansusia primitif, pikiran mereka barangkali masih di bayang-bayangi dengan pikiran mistis, namun setidaknya dengan melihat fenomena alam, manusia telah berpikir untuk menafsirkan berbagai gerakan dan kehidupan di alam raya sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Mereka juga berpikir bagaimana ia berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia primitf percaya bahwa gerakan di alam ini ada yang mengatur sebagaimana yang mereka pahami. Dari sini berkembang kepercayaan animisme, dinamisme dan peganisme dalam masyarakat primitif.
Bersama dengan putaran waktu, pengetahuan manusia primitif semakin bertambah. Mereka mulai berpikir bahwa sesuatu yang dulu dianggapnya sebagai Tuhan ternyata tidak mampu memberikan sosuli terhadap berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. Indah dan teratur ini tidak mungkin di ciptakan dari banyak Tuhan. Dari sini manusia mulai percaya bahwa di sana hanya ada satu tuhan saja.
Semakin lama pengetahuan manusia pun semakin meluas. Sehingga satu persatu pengetahuan dapat berdiri sendiri secara tematis, perlahan-lahan, pengetahuan mulai menjadi sebuah ilmu yang memiliki berbagai cabang sesuai denan tema dan tujuannya masing-masing. Dari sini berkembanglah ilmu filsafat yang dapat menilai sesuatu secara lebih menyeluruh dan logis. Ilmu pun berkembang dengan filsafat dan hal ini dapat di manfaatkan manusia untuk mengimbangi kebutuhan mereka dalam berinteraksi dengan realitas. Dengan ini pula peradapan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia.

PENUTUP

Manusia mulai dengan berfilsafat, bila ia berpikir dengan teliti dan teratur untuk memecahkan problem-problem dan memandang permasalahannya dari sudut yang hakiki. Maka dari itu pada hakekatnya. Filsafat mengemukakan pandangan-pandangan yang bersifat akar dari ilmu yang lain. Namun disamping itu antara ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lain terdapat kesamaan-kesamaan sifat, yaitu bahwa semuanya tertarik pada pengetahuan dan masing-masing adalah lapangan yang mengadakan pemeriksaan dan penemuan, mempunyai objek, metode penelitian dan sistem.